Jakarta (cvtogel) — Di banyak rumah, segelas susu kerap menjadi jawaban cepat ketika anak menolak makan. Praktis, dianggap bergizi, dan terasa menenangkan bagi orang tua. Namun para ahli gizi mengingatkan: susu tidak boleh diposisikan sebagai pengganti makan utama anak. Kebiasaan ini, bila berlangsung lama, berisiko mengganggu tumbuh kembang dan kesehatan anak.

Peringatan ini bukan untuk meniadakan peran susu, melainkan meluruskannya. Susu adalah pelengkap, bukan pengganti. Di balik kebiasaan yang tampak sepele, ada konsekuensi gizi, perilaku makan, hingga keselamatan kesehatan anak yang perlu diperhatikan bersama.


Mengapa Susu Tak Bisa Menggantikan Makan?

Makan utama—pagi, siang, dan malam—menyediakan keragaman zat gizi yang tidak bisa dipenuhi oleh susu saja. Karbohidrat kompleks untuk energi, protein dari sumber hewani dan nabati, lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral datang dari beragam makanan: nasi atau sumber karbohidrat lain, lauk, sayur, dan buah.

Susu memang kaya protein dan kalsium, tetapi minim serat dan tidak menyediakan spektrum gizi selengkap makanan utuh. Jika susu menggantikan makan, anak berisiko kekurangan zat gizi penting—terutama zat besi dan serat—yang berperan besar pada konsentrasi, pencernaan, dan daya tahan tubuh.


Risiko yang Mengintai

Para ahli gizi mencatat beberapa risiko bila susu sering dijadikan pengganti makan utama:

  1. Anemia defisiensi besi
    Asupan zat besi bisa menurun jika anak jarang makan lauk kaya besi. Dampaknya bukan hanya pucat, tetapi juga mudah lelah dan sulit fokus.

  2. Gangguan pola makan
    Anak terbiasa “mengenyangkan diri” dengan cairan. Nafsu makan pada makanan padat menurun, sehingga kebiasaan makan sehat sulit dibangun.

  3. Masalah pencernaan
    Kurang serat dapat memicu sembelit. Pada sebagian anak, konsumsi susu berlebih juga memicu kembung atau diare.

  4. Ketidakseimbangan energi
    Anak bisa merasa kenyang cepat tanpa energi yang bertahan lama, sehingga mudah rewel dan kurang aktif.


Human Interest: Di Balik Meja Makan Keluarga

Banyak orang tua berada di posisi serba salah. Anak menutup mulut, menangis, atau memilih gawai ketimbang sendok. Susu lalu menjadi “jalan damai”. Para ahli gizi memahami dilema ini dan menekankan pendekatan empatik—bukan memaksa, tetapi membimbing.

“Makan adalah proses belajar,” kata seorang ahli gizi. “Anak perlu waktu untuk mengenal rasa, tekstur, dan kebiasaan duduk makan bersama.” Meja makan yang hangat, tanpa tekanan, sering kali lebih efektif daripada ancaman atau iming-iming.


Peran Susu yang Tepat

Susu tetap penting bila ditempatkan dengan benar:

  • Pelengkap, misalnya di antara waktu makan atau sebagai tambahan setelah anak makan utama.

  • Pendukung kebutuhan khusus, seperti pada anak dengan kebutuhan kalsium lebih tinggi—tetap dengan pendampingan tenaga kesehatan.

  • Bagian dari menu seimbang, bukan satu-satunya sumber gizi.

Porsi dan frekuensi juga perlu disesuaikan usia dan kebutuhan anak. Terlalu banyak susu justru bisa “mengambil tempat” dari makanan bergizi lainnya.


Tips Praktis Membangun Kebiasaan Makan Sehat

Agar makan utama kembali menjadi prioritas, para ahli gizi menyarankan langkah-langkah sederhana dan realistis:

  • Jadwal konsisten: Tetapkan jam makan dan camilan. Hindari susu mendekati jam makan utama.

  • Porsi kecil dulu: Mulai dari sedikit agar anak tidak merasa terintimidasi.

  • Variasi & warna: Sajikan makanan berwarna untuk menarik minat.

  • Teladan orang tua: Anak meniru. Makan bersama dan nikmati makanan yang sama.

  • Lingkungan aman: Kurangi distraksi gawai. Fokus pada pengalaman makan.


Kesehatan Publik Dimulai dari Rumah

Pesan ahli gizi ini bukan larangan, melainkan perlindungan. Pola makan yang tepat adalah fondasi kesehatan publik—mencegah masalah gizi, mendukung kecerdasan, dan membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Dalam perspektif kemanusiaan, memastikan anak mendapatkan gizi seimbang adalah bentuk tanggung jawab bersama: keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan.

Susu tetap punya tempat di gelas anak. Namun piring makanlah panggung utamanya. Dari sana, anak belajar mengenal gizi, kebersamaan, dan rasa aman—bekal penting untuk tumbuh sehat hari ini dan di masa depan.

By admin