Jakarta (initogel login) — Di era ketika satu unggahan dapat menjalar ke jutaan layar dalam hitungan menit, etika sering kali tertinggal di belakang kecepatan. Itulah nada yang mengemuka ketika Partai Demokrat menyampaikan sikapnya, mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial, menyusul tudingan yang menyebut Susilo Bambang Yudhoyono sebagai dalang isu ijazah Joko Widodo.
Bagi Demokrat, isu ini bukan sekadar polemik politik, melainkan cermin bagaimana ruang digital dapat melukai—baik reputasi pribadi maupun kepercayaan publik—jika dikelola tanpa tanggung jawab.
Ruang Digital dan Luka yang Tak Terlihat
Tudingan yang beredar di media sosial itu menyebar cepat, memantik perdebatan dan emosi. Bagi banyak orang, tuduhan di ruang digital terasa ringan—cukup diketik, lalu dikirim. Namun bagi pihak yang dituding, dampaknya nyata: nama baik, keluarga, dan rekam jejak panjang ikut terseret.
“Media sosial bukan ruang tanpa etika,” ujar seorang kader Demokrat. “Kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab.”
Pernyataan itu mencerminkan kegelisahan yang lebih luas: ketika politik berpindah ke layar ponsel, batas antara kritik, fitnah, dan sensasi menjadi kabur.
Menjaga Martabat Demokrasi
Demokrat menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik adalah hal wajar dalam demokrasi. Namun, menyeret tuduhan personal tanpa dasar yang jelas dinilai merusak ruang publik dan memperdalam polarisasi.
Bagi partai tersebut, menjaga martabat demokrasi berarti memastikan perdebatan berjalan di jalur substansi—bukan asumsi atau insinuasi.
“Demokrasi butuh adab,” kata seorang pengamat politik. “Tanpa adab, ia berubah menjadi kebisingan.”
SBY dan Jejak Kepemimpinan
Nama SBY dalam tudingan itu memantik reaksi karena posisinya sebagai mantan presiden dan figur yang selama ini dikenal dengan pendekatan moderat. Bagi pendukungnya, tuduhan tersebut terasa tidak adil dan mengabaikan rekam jejak panjang dalam menjaga stabilitas politik.
Namun Demokrat memilih menempuh jalur pernyataan etis—bukan serangan balik. Sikap ini dibaca sebagai upaya meredam eskalasi dan mengajak publik kembali pada akal sehat.
“Menjawab panas dengan dingin,” ujar seorang relawan partai. “Itu yang dibutuhkan sekarang.”
Jokowi dan Isu yang Tak Kunjung Padam
Isu ijazah Presiden Jokowi telah beberapa kali muncul dan dibantah. Setiap kali kembali mencuat, ia menyisakan kelelahan publik. Banyak warga menilai isu semacam ini tidak lagi produktif, terutama di tengah tantangan bangsa yang lebih mendesak.
“Rakyat butuh solusi, bukan sensasi,” kata Rina, warga Jakarta. “Kami ingin politik yang menenangkan.”
Etika sebagai Tanggung Jawab Bersama
Seruan Demokrat tidak ditujukan kepada satu kelompok saja. Ia diarahkan kepada semua pengguna media sosial—politisi, pendukung, dan warga biasa. Di ruang digital, setiap orang adalah penerbit; setiap unggahan punya konsekuensi.
Etika bermedia sosial, menurut Demokrat, mencakup verifikasi informasi, kehati-hatian dalam berkomentar, serta kesadaran bahwa di balik layar ada manusia dengan martabat.
“Berhenti sejenak sebelum membagikan,” ujar seorang akademisi komunikasi. “Itu etika paling sederhana.”
Menjaga Ruang Publik Tetap Waras
Di tengah tahun-tahun politik yang sarat dinamika, ruang publik digital diuji ketahanannya. Apakah ia menjadi ruang dialog yang sehat, atau arena tuding-menuding tanpa ujung?
Peringatan Demokrat hadir sebagai pengingat: demokrasi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh hasil pemilu, tetapi juga oleh cara warganya berbicara satu sama lain.
Harapan akan Percakapan yang Lebih Dewasa
Di ujung polemik ini, harapan publik sederhana—agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan, dan kritik tidak menjelma fitnah. Media sosial, dengan segala dayanya, seharusnya menjadi alat memperkuat demokrasi, bukan melemahkannya.
Ketika Demokrat mengingatkan etika bermedia sosial, pesan yang ingin disampaikan lebih luas dari satu isu: bahwa politik, pada akhirnya, adalah tentang manusia—dan manusia layak diperlakukan dengan hormat, bahkan dalam perbedaan.
Karena di ruang digital yang bising, etika adalah jangkar. Tanpanya, kita semua berisiko terseret arus yang melukai.

